Senin, 20 November 2017

THE JOURNEY'S


Filosofi tentang kesuksesan seseorang menuju puncak dibantu oleh banyak faktor sudah menjadi prinsip hidup saya. Dalam karir, walaupun masih dalam pencapaian yang biasa-biasa saja (saya seorang HRD di sebuah instansi kesehatan publik khusus mata), saya memahami bahwa untuk sampai dititik saat ini saya dibantu oleh banyak pihak. Keluarga, rekan kerja dan bahkan atasan. Idealisme tersebut merasuki hampir ke semua segi kehidupan sehari-hari. Termasuk dalam menjalankan hobby saya yang kebetulan sangat mencintai kegiatan di alam, terutama mendaki gunung. Saya sudah menekuni hobi tersebut sejak SMU.

Obsesi tertinggi seorang pendaki tentu saja mencapai puncak, yang sedari awal sudah tahu bahwa banyak sekali rintangan atau tantangan yang akan mereka hadapi. Sebut saja kondisi mental, stamina, kesehatan, faktor tekhnis (kondisi medan, suhu, cuaca dan iklim) serta faktor non tekhnis. Sampai detik ini, saya masih berusaha untuk mempelajari hal-hal tersebut, karena bagi saya tidak ada rumus baku mengenai ‘mental seperti apa yang wajib kita pelajari untuk mencapai Mahameru (puncak tertinggi gunung Semeru) ?’ Pelajaran tentang mental tidak mengenal batasan. Dengan alam kita harus senantiasa beradaptasi, bersikap rendah hati, dan jika kita termasuk dalam orang yang berpikiran dengan logika, alam akan mengajarkan kita betapa kecilnya manusia di hadapan Tuhan.

Saya selalu menikmai momen ketika berjalan menunuju puncak sebuah gunung. Kemudian jika kaki ini sudah berpijak dengan kokoh di puncak sebuah gunung, tidak lupa saya selalu mengucapkan terima kasih kepada rekan seperjalanan saya. Sedikit banyak, saya percaya mereka telah membantu saya dalam menemukan keajaiban ini.

Dalam konteks di atas, ketika saya melakukan kegiatan mendaki gunung, saya memang terbantu oleh rekan-rekan saya (yang membuat perjalanan jadi menyenangkan), saya juga ditemani oleh beberapa barang bawaan sebagai penunjang stamina dan mood yang wajib dibawa.

Di gunung, kita dapat menyebut masalah aklimatisasi atau hipotermia sering menjadi momok. Tetapi saya mampu mengakalinya. Caranya adalah dengan membuat minuman hangat agar suhu tubuh tetap normal. Terdengar sederhana dan simple tetapi membawa pengaruh luar biasa. Itulah pelajaran yang saya petik dari : beradaptasi dan berpikiran dengan logika. Saya mempercayakan masalah minuman pada kopi kapal api. Mengapa? Karena selain Kopi kapal api jelas lebih enak, faktor rasa dan kepraktisan menjadi pertimbangan saya. Rasa dari kopi kapal api  membuat tubuh cepat beradaptasi dengan suhu di pegunungan. Dan karena saya berpikrian dengan logika, maka saya memilih kopi kapal api yang memiliki banyak jenis dan varian rasa. Kemasannya yang praktis dan mudah dibawa, menjadikannya sebagai sahabat sejati saat mendaki. Sebut saja, kopi kapal api kopi susu ginseng yang terdiri dari kopi, susu, gula dengan tambahan ekstak ginseng terbukti sangat pas untuk menghangatkan tubuh dan menambah stamina. Agar tidak bosan, terkadang saya membawa Kopi kapal api Special (kopi bubuk murni), Kapal Api Special Mix (kopi plus gula), Kapal Api Kopi Susu (kopi, gula dan susu), atau Kopi Kapal Api Mocha (kopi, gula, susu, dengan campuran coklat) agar saya dan teman-teman memiliki banyak pilihan. Atau karena saya penyuka kopi bubuk, dari rumah saya sudah meracik kopi kapal api jenis premium blend yang saya masukan ke dalam termos kecil. Alasanya, selain kopi kapal api premium morning blend sebuk kopinya terasa sangat lembut dan kemasannya membuat kopi menjadi lebih tahan lama, rasanya membuat kepala lebih rileks. Dan buat saya kopi kapal api premium morning blend ini baunya memang lebih pekat daripada kopi biasa. Mencium baunya saja sudah membuat mood saya selalu berada dalam level on. Ledekan soal akan membuka warung kopi di gunung pun saya peroleh dari teman-teman karena saya membawa kopi kapal api begitu banyak.

Jadi, itulah sekelumit cerita saya saat menaklukan sebuah gunung dan menemukan keajaiban. Bagi saya, Kopi kapal api menjadi bagi bagian dari keajaiban itu dan akan terus begitu.
#KapalApiPunyaCerita

Status sebagai Youtuber Nomor 1, Baim Wong : Perjuangan sebuah eksistensi

Baim Wong menjadi salah ikon budaya pergeseran selebritas yang beralih profesi menjadi Youtuber, terlepas dari hasil akhir yang kini men...