Filosofi tentang kesuksesan seseorang menuju puncak
dibantu oleh banyak faktor sudah menjadi prinsip hidup saya. Dalam karir,
walaupun masih dalam pencapaian yang biasa-biasa saja (saya seorang HRD di
sebuah instansi kesehatan publik khusus mata), saya memahami bahwa untuk sampai
dititik saat ini saya dibantu oleh banyak pihak. Keluarga, rekan kerja dan
bahkan atasan. Idealisme tersebut merasuki hampir ke semua segi kehidupan
sehari-hari. Termasuk dalam menjalankan hobby saya yang kebetulan sangat mencintai
kegiatan di alam, terutama mendaki gunung. Saya sudah menekuni hobi tersebut
sejak SMU.
Obsesi tertinggi seorang pendaki tentu saja mencapai
puncak, yang sedari awal sudah tahu bahwa banyak sekali rintangan atau
tantangan yang akan mereka hadapi. Sebut saja kondisi mental, stamina,
kesehatan, faktor tekhnis (kondisi medan, suhu, cuaca dan iklim) serta faktor
non tekhnis. Sampai detik ini, saya masih berusaha untuk mempelajari hal-hal
tersebut, karena bagi saya tidak ada rumus baku mengenai ‘mental seperti apa
yang wajib kita pelajari untuk mencapai Mahameru (puncak tertinggi gunung
Semeru) ?’ Pelajaran tentang mental tidak mengenal batasan. Dengan alam kita
harus senantiasa beradaptasi, bersikap rendah hati, dan jika kita termasuk
dalam orang yang berpikiran dengan logika, alam akan mengajarkan kita betapa
kecilnya manusia di hadapan Tuhan.
Saya selalu menikmai momen ketika berjalan menunuju
puncak sebuah gunung. Kemudian jika kaki ini sudah berpijak dengan kokoh di
puncak sebuah gunung, tidak lupa saya selalu mengucapkan terima kasih kepada
rekan seperjalanan saya. Sedikit banyak, saya percaya mereka telah membantu
saya dalam menemukan keajaiban ini.
Dalam konteks di atas, ketika saya melakukan kegiatan
mendaki gunung, saya memang terbantu oleh rekan-rekan saya (yang membuat
perjalanan jadi menyenangkan), saya juga ditemani oleh beberapa barang bawaan
sebagai penunjang stamina dan mood yang wajib dibawa.
Di gunung, kita dapat menyebut masalah aklimatisasi
atau hipotermia sering menjadi momok. Tetapi saya mampu mengakalinya. Caranya
adalah dengan membuat minuman hangat agar suhu tubuh tetap normal. Terdengar
sederhana dan simple tetapi membawa pengaruh luar biasa. Itulah pelajaran yang
saya petik dari : beradaptasi dan berpikiran dengan logika. Saya mempercayakan
masalah minuman pada kopi kapal api. Mengapa? Karena selain Kopi kapal api
jelas lebih enak, faktor rasa dan kepraktisan menjadi pertimbangan saya. Rasa
dari kopi kapal api membuat tubuh cepat
beradaptasi dengan suhu di pegunungan. Dan karena saya berpikrian dengan
logika, maka saya memilih kopi kapal api yang memiliki banyak jenis dan varian
rasa. Kemasannya yang praktis dan mudah dibawa, menjadikannya sebagai sahabat
sejati saat mendaki. Sebut saja, kopi kapal api kopi susu ginseng yang terdiri
dari kopi, susu, gula dengan tambahan ekstak ginseng terbukti sangat pas untuk
menghangatkan tubuh dan menambah stamina. Agar tidak bosan, terkadang saya
membawa Kopi kapal api Special (kopi bubuk murni), Kapal Api Special Mix (kopi
plus gula), Kapal Api Kopi Susu (kopi, gula dan susu), atau Kopi Kapal Api
Mocha (kopi, gula, susu, dengan campuran coklat) agar saya dan teman-teman
memiliki banyak pilihan. Atau karena saya penyuka kopi bubuk, dari rumah saya
sudah meracik kopi kapal api jenis premium blend yang saya masukan ke dalam
termos kecil. Alasanya, selain kopi kapal api premium morning blend sebuk
kopinya terasa sangat lembut dan kemasannya membuat kopi menjadi lebih tahan
lama, rasanya membuat kepala lebih rileks. Dan buat saya kopi kapal api premium
morning blend ini baunya memang lebih pekat daripada kopi biasa. Mencium baunya
saja sudah membuat mood saya selalu berada dalam level on. Ledekan soal akan
membuka warung kopi di gunung pun saya peroleh dari teman-teman karena saya
membawa kopi kapal api begitu banyak.
Jadi, itulah sekelumit cerita saya saat menaklukan
sebuah gunung dan menemukan keajaiban. Bagi saya, Kopi kapal api menjadi bagi
bagian dari keajaiban itu dan akan terus begitu.
#KapalApiPunyaCerita